danau toba

Sumut – UNESCO memilih Kaldera Toba (atau yang lebih dikenal sebagai Danau Toba) sebagai Global Geopark Danau Toba karena keunikan geologisnya, warisan budaya yang tinggi, dan potensi ekonomi dan pariwisata yang besar. Hal ini seharusnya menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk mengenalkan wisata Indonesia ke mata Dunia.

Apa itu UNESCO Global Geopark? UNESCO Global Geopark adalah sebuah kawasan geografis yang memiliki warisan geologi bernilai internasional dan dikelola dengan konsep holistik yang mencakup perlindungan, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan. 

Taukah kamu ? danau toba terdiri dari beberapa kabupaten  yaitu, Simalungun, Samosir, Dairi, Toba, Tapanuli Utara,Karo, Humbang Hasundutan dan satu kabupaten penyangga yaitu Pakpak Barat.

Baca Juga : Kebakaran di Hotel Danau Toba, Medan

Namun sangat disayangkan 23 September 2023 Geopark Kaldera Toba ( GKT) mendapat surat peringatan (kartu kuning) dari UNESCO, karna melihat lembaga yang mengelola tidak serius dalam menjalankan rekomendasi yang di sampaikan oleh UNESCO Global Geopark. Surat peringatan diberikan setelah Tim asesor UNESCO di tanggal 31 Juli hingga 4 Agustus 2023 melakukan validasi ulang.Diberikannya kartu kuning artinya Geopark Kaldera Toba memiliki waktu dua tahun untuk melakukan perbaikan sebelum diperiksa kembali.


sejak di tetapkan menjadi bagian dari UNESCO global geopart pada 2019 lalu terbentuk lah badan pengelola geopart toba berdasarkan SK gubernur Sumatera Utara pada tahun 2020.

pemerintah daerah seharusnya  terus mengedukasi masyarakat setempat terhadap pentingnya pengelolaan kawasan geopark Danau Toba sebagai destinasi wisata yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

Keseriusan pemerintah daerah juga sangat diperlukan mengingat tim asesor dari UNESCO akan menilai ulang Geopark Kaldera Toba pada bulan Juni 2025.

Jika rekomendasi UNESCO tidak dipenuhi dalam batas waktu yang diberikan (Juni 2025), status keanggotaan Geopark Kaldera Toba sebagai UGGp berpotensi dicabut, sehingga Geopark Toba akan kehilangan statusnya sebagai bagian dari jaringan Global Geopark.

Melihat Perkembangannya, Status Geo Park danau Toba bisa saja di cabut. Karena ada banyak hal yang tidak di jalankan, salahsatunya adalah lembaga atau managemen yang mengurus Kaldera Toba yang baru mulai aktif pada februari 2025.

Siapa pimpinan tertinggi badan pengelola geopart toba ini?

Salah satunya , Ria Telaumbanua yg  merupakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, ia juga adalah seorang dokter asal Siantar dan punya sedikit pengalaman tentang konservasi anggrek Toba karena dia juga memiliki  hobi fotografi.

dan kemudian digantikan oleh Zumri Sultoni yang juga menjabat sebagai kepala dinas kebudayaan dan pariwisata Sumatera Utara dan kemudian juga menjadi pemimpin tertinggi badan pengelola geopart kaldera toba.

Keseriusan dalam mengelola Geopark Danau Toba ini sangat di butukan, bukan hanya pimpinannya namun masyarakat sekitar juga harus menyadari pentingnya kesempatan ini di manfaatkan sebaik baiknya. Karena manfaatnya juga akan kembali ke masyarakat sekitar, karna status geopark danau toba memiliki potensi besar untuk meningkatkan pariwisata, mengembangkan ekonomi lokal, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan kesadaran akan warisan geologi.

Baca Juga : Hari Kebangkitan Nasional, Kapolres Humbang Hasudutan